Laktasi

pojok-laktasi

Keberadaan pojok laktasi di tempat umum dan perkantoran penting sekali untuk menaikkan persentase pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Menurut catatan UNICEF, cakupan ASI eksklusif di Indonesia terus turun, dari 86 persen pada 1986 menjadi 39,5 persen pada 2002. Angka itu makin jauh dari target nasional, yakni 80 persen.

Turunnya persentase ini bisa jadi didorong pula oleh makin banyaknya ibu menyusui yang juga harus bekerja, sementara kesempatan untuk menyusui dan memerah ASI belum banyak. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, kesempatan ibu bekerja untuk menyusui dan memerah ASI di tempat kerja adalah 62 persen di perkantoran pemerintah dan 50 persen di perkantoran swasta.

Penyediaan pojok laktasi di tempat-tempat umum dan perkantoran, termasuk puskesmas dan rumah sakit, sebetulnya diwajibkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012. Namun banyak yang belum menyediakannya karena berbagai alasan, misalnya pengeluaran biaya lebih untuk membangunnya atau berkurangnya waktu untuk bekerja bagi karyawati yang menyusui atau memerah ASI di kantor.

Sejak keluarnya PP tersebut, masih sedikit kantor dan tempat umum yang menyediakan pojok laktasi. Dari yang telah menyediakannya pun, hanya segelintir di antaranya yang membuat pojok itu menjadi nyaman dan sangat memperhatikan privasi ibu menyusui. Misalnya memiliki bilik-bilik untuk memerah ASI, tempat mengganti popok bayi, dan tempat mencuci botol susu.

Semoga dengan berjalannya waktu, semakin banyak pengelola kantor dan tempat umum sadar penambahan jumlah dan kualitas pojok laktasi diperlukan untuk mendukung pemberian ASI eksklusif. Secara tidak langsung penyediaan pojok laktasi mendorong naiknya derajat kesehatan dan kecerdasan generasi penerus bangsa.